“…… menggunakan system primus inter pares, sedangkan syarat yang harus
dipenuhi oleh kepala suku, diantaranya memiliki kesaktian, kewibawaan, ….”
Suara Made terdengar lantang dan membahana ke segala penjuru kelas saat
menjawab pertanyaan dari Bu Tika dengan panjang-lebarnya.
Ya, sekarang ini sedang berlangsung pelajaran dari bidang studi yang
dibimbing oleh Bu Tika, yaitu pelajaran sejarah. Dan cewek tinggi berkulit
putih yang duduk di depan sana adalah salah seorang siswi hindu berdarah Bali
yang pandai dan terampil. Ya, seperti yang ku katakan, murid pandai, ia adalah salah
seorang siswi yang selalu terlihat aktif dalam setiap mata pelajaran yang
berlangsung, dan selalu saja bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh
seorang guru. Dan memang seperti itulah kebanyakan murid-murid di kelas ini,
atau mungkin lebih tepatnya, di sekolah ini.
Sekolah ini, ya Sekolah Menengah Atas berstatus Negeri yang ternama di
Surabaya. Ya, memang ternama, karena memang, murid-murid di sini merupakan
murid-murid berprestasi yang pandai, terampil, dan pastinya luar biasa.
Setidaknya begitulah kebanyakan dari murid-murid di sini, atau lebih tepatnya,
murid-murid berprestasi yang sering diikutkan dalam berbagai ajang kompetisi
ataupun olimpiade. Dan tidak mengherankan bila suasana di setiap kelas terlihat
hidup dan bersemangat dalam setiap mata pelajaran yang sedang berlangsung.
Karena jelas saja, seperti yang ku katakan, murid-murid di sini merupakan
murid-murid pandai, selain itu, juga mereka bukanlah murid-murid pasif, pemalu
lagi minder, tetapi mereka selalu ikut aktif, bahkan bisa dibilang lebih aktif
dari gurunya sendiri.
Contohnya saja, di kelas ini, salah satunya ada… sebut saja, cewek hindu
tadi, Made, yang sepertinya menguasai dalam setiap mata pelajaran yang
diberikan. Selain itu juga ada cowok katholik berdarah campuran Jawa dengan
Australia, yaitu Daniel, yang merupakan siswa berprestasi yang ahli dalam
segala bidang hitung-menghitung, bahkan dia di kelas ini dijuluki sebagai
bapaknya angka, yaps.. daya ingat dan caranya memecahkan misteri mengenai angka
tidak perlu diragukan lagi. Kemudian juga ada Steven, cowok Kristen keturunan
asli Inggris yang gak tau kenapa bisa nyasar ke sini, jadi wajar bila nih anak
logat berbahasa Indonesia-nya tidak begitu bagus. Oh.. walau begitu, jangan diragukan
lagi kemampuannya dalam pelajaran, dia juga merupakan murid pandai, khususnya
dalam bidang kimia. Coba bayangkan saja, padahal baru beberapa bulan duduk di
kelas 1 SMA ini, tetapi ia langsung meraih juara satu dalam olimpiade kimia
tingkat kabupaten, walau saat itu ia baru pertama kali mengikuti ajang olimpiade.
Lalu juga ada Aldo, atlit renang yang berkali-kali menyabet medali emas di
tingkat kabupaten ataupun provinsi, tetapi jangan anggap remeh ia dalam mata pelajaran.
Di semester satu kemarin saja, Aldo meraih peringkat empat dari empat puluh
murid di kelas ini.
Tepat, murid-murid yang ku sebutkan tadi merupakan murid-murid pandai
yang menduduki peringkat, masing-masing, pertama, kedua, ketiga, dan keempat di
semester satu kemarin. Lalu, yang kelimanya ada Vina, selanjutnya Leny, Siva,
Alvin, kemudian… aku tidak ingat siapa saja. Yang pasti, mereka adalah
murid-murid pandai dan selalu terlihat aktif di kelas.
Lalu? Siapa aku? Aku… jika dibandingkan dengan mereka, aku tidaklah
lebih dari seorang murid bodoh yang duduk paling belakang dan seorang diri,
menyendiri. Dan teman-temanku biasanya memanggilku dengan, ‘Husain’. Ya,
berbeda dari mereka yang ku sebutkan, aku tidaklah aktif seperti mereka. Aku
hanya mampu terdiam dalam setiap mata pelajaran, bahkan di pelajaran sejarah sekarang
ini, ku hanya mampu menatapi mereka yang saling sahut-menyahut. Kenapa?
Tentunya aku merasa minder ataupun canggung menghadapi murid-murid seperti
mereka.
Bahkan, awal aku masuk ke SMA ternama ini beberapa bulan yang lalu saja,
aku hanya mampu terdiam melongo melihat bangunan sekolah yang begitu megahnya,
aku berjalan pelan dengan jantung berdetak kencang dan memasang wajah culun
punya. Jadi, wajar, jika saat itu banyak murid lain yang memerhatikan setiap
langkahku. Aku sadar, bahwa aku tidaklah sama seperti mereka, aku jauh berbeda.
Mereka merupakan anak-anak hebat dari kalangan kelas atas. Sedangkan aku?
Bahkan masuk ke SMA ternama ini saja aku dibiayai oleh seorang guru MTs asal
sekolahku dulu yang begitu baik dan perhatian denganku. Padahal awalnya, aku
hampir saja putus sekolah hingga hanya tamat MTs. Tetapi beliau yang begitu
perhatian denganku, menyayangkan akan kepintaranku, sehingga ia sudi untuk
membiayaiku ke sekolah yang tergolong elit ini. Tunggu? Pintar? Ya.. setidaknya
dulu.
Awal cerita, ketika aku melangkah di lorong sekolah ini untuk
mendaftarkan diri, aku berjalan dengan sangat, sangat, dan sangat grogi.
Bagaimana tidak? Aku melihat ke sekelilingku, wajah-wajah mereka yang tampak
berseri dan menawan dengan didampingi orangtua yang melangkah dengan begitu anggun.
Bahkan awal aku melangkah di pintu masuk saja, sudah banyak deretan mobil mewah
yang membuatku merasa canggung. Lalu, melihat sosok-sosok berpakaian rapi dan
mewah? Sedangkan aku? Melangkah seorang diri dengan wajah kumus dan pakaian
seadanya, sembari memegang amplop berisi formulir dan uang pendaftaran yang
diberikan oleh guru MTs, dengan tanganku yang bergemetar.
Aku melihat wajah murid-murid yang beberapa diantaranya tampak asing
atau lebih tepatnya bule, dan juga banyak diantara mereka yang hanya dari wajahnya
saja sudah tampak begitu pandai dengan hidup bergelimang kemewahan. Juga banyak
diantara mereka merupakan warga non-Muslim. Ya, aku sadar, sekarang ini aku
berada di SMA Negeri ternama yang pendidikannya umum, yang tidak seperti di MTs
dulu. Bahkan, hanya mendengar bahwa mereka itu adalah bule ataupun non-Muslim,
sudah membuatku merinding, dan dalam anganku, mereka adalah murid-murid pandai
dan luar biasa.
Dan benar saja, terbukti dari hasil raport semester satu kemarin. Yang
jelas saja hal itu membuatku lebih sangat canggung dan tak percaya diri.
Bagaimana tidak? Aku yang dulu merupakan siswa Islam di MTs swasta Fastabiqul
Choirot atau yang lebih dikenal dengan MTs FasCho di salah satu sudut kota
Surabaya, yang selalu meraih peringkat pertama dan hanya sekali meraih
peringkat kedua dari jumlah murid sekitar 40-45 selama tiga tahun, ternyata di
sekolah Negeri umum ini aku bukanlah apa-apa. Huft…. Bagaimana yah? Coba saja
bayangkan, ternyata, menghadapi murid-murid asing dan non-Muslim itu, aku, di
semester satu kemarin hanya meraih peringkat ke-29 dari 40 siswa. Ada yang
ingin mengatakan “wow”? Silahkan saja.
Dari hasil itupun ku sadari, sebuah pertanyaan muncul dalam benakku, tak
pantaskah murid dari MTs swasta yang hanya memiliki enam ruang kelas dan tempat
seadanya di sebuah tempat kumuh diantara perkotaan mewah di kota Surabaya
sepertiku ini untuk bersaing di dunia yang telah modern ini?
Sungguh ku kini bingung dan hanya mampu bertanya, sudah tidak bergunakah
ilmu-ilmu tentang Syariat Islam yang telah cukup mendalam diajarkan padaku
untuk menghadapi tantangan di zaman modern ini?
Aku kembali mengingat-ingat kejadian masa laluku, di mana sudah banyak
hal dalam dunia Islam yang ku ketahui dan ku dapatkan di masa MTs ku dahulu, dan
juga sudah melihat bagaimana tingkah sohib-sohib sesama Muslim-ku dulu.
Kemudian, sekarang aku dihadapkan pada sekolah umum yang mengenai pendidikan
Islam saja tidaklah begitu dapat. Pikiranku pun berkecamuk. Aku baru melihat
dan merasakan bagaimana dunia di luar Islam yang sejak dulu hanya ada dalam
anganku. Dulu aku hanya menerka-nerka dari informasi yang ku peroleh dari buku
dan media cetak lainnya. Dan benar saja, mereka benar-benar pandai.
Sebenarnya sih, tidak sedikit murid Muslim di sini, hanya saja mereka
bukanlah Muslim yang taat, dan tidak mengerti tentang Islam dengan begitu baik.
Memang, dalam pelajaran umum mereka cukup pandai, ya, hanya cukup jika
dibandingkan siswa non-Muslim, tetapi dalam pengetahuan Islam, mereka… bahkan
bisa dibilang sama sekali tidak mengerti. Bahkan mengenai sholat saja mereka
tidak begitu paham. Yah… jadi beginikah murid-murid Muslim yang terbiasa hidup
mewah dan sejak dulu sudah terbiasa bersekolah di tempat elit? Dan bahkan lagi,
di sini, Islam tidak berarti apapun. Murid-murid Muslim di sini, sepertinya
tidak begitu peduli dengan arti kata “agama Islam”. Bagi mereka agama apapun
sama saja, yang terpenting adalah bersaing dalam pelajaran umum.
Tetapi, walaupun dikatakan bersaing, murid-murid non-Muslim di sini
selalu lebih unggul. Mereka sepertinya lebih berpengetahuan luas dibandingkan
murid-murid Muslim. Jadi, apakah umat Muslim kalah dengan umat non-Muslim?
Ku teringat dengan buku yang berisi kumpulan biografi ilmuwan-ilmuwan
Muslim yang ku baca di perpustakaan pada minggu lalu. Aku begitu terkagum, dan
terdapat rasa kebanggaan tersendiri di dalam hati. Sekaligus menimbulkan
pertanyaan tersendiri ketika ku menatap dunia ini, apakah benar sehebat itu
Islam pada abad pertengahan dahulu? Ataukah hanya sekadar dongeng belaka? Aku menjadi
ragu.
Aku menatap kembali ke sekeliling, ke seluruh isi kelas, menatap wajah
teman-teman satu kelasku. Di sana ada Anang, yang merupakan siswa Muslim,
tetapi, membaca Al-Fatihah saja dia sudah begitu gelagapan. Juga ada Santi,
yang seharusnya sebagai seorang yang memegang status Muslimah harusnya bisa
menjaga auratnya, tetapi dia? Pakaiannya saja begitu wow. Selain itu juga ada
Ghani, yang bisa dibilang seorang murid Muslim yang paling tegas diantara kami.
Tetapi tetap saja, kami semua, murid-murid Muslim, dibandingkan dengan mereka
yang di depan sana, murid-murid dari agama yang berbeda-beda, bukanlah apa-apa.
Dalam setiap detik pelajaran sejarah ini, aku hanya mampu terdiam dan
termenung tanpa kata. Pelajaran sejarah ya? Ya, sudah lebih dari satu jam aku
mengikuti pelajaran sejarah di dalam kelas ini, tetapi sama sekali tak ku
gubris apa yang ada di depan sana. Aku hanya terdiam dan termenung di bangku
paling belakang. Setidaknya hingga ku tersadar.
Sejarah? Biografi? Ilmuwan Muslim? Abad Pertengahan? Tiba-tiba,
serentetan kata-kata itu mengalir dalam benakku. Benar, jika benar kemajuan
umat Muslim pada abad pertengahan semengagumkan seperti yang ku baca, kenapa sekarang
ini tidak bisa? Ku menatap kembali ke sekeliling. Apakah karena umat Muslim
yang seperti sekarang ini? Yang tidak peduli dengan yang namanya Islam? Yang
hanya menatap suatu keduniawian? Sehingga menganggap orang-orang non-Muslim di
luar kita itu begitu mengagumkan? Jadi, di mana kebanggaan kita sebagai umat
Muslim, di mana kebanggaanku yang memeluk Islam ini.
Benar, tidak ada yang salah dalam ajaran Islam. Tidak ada yang salah
dalam Syariat Islam. Tidak ada yang salah di Islam. Hanya saja mereka, kebanyakan
umat Muslim di zaman modern ini saja yang tidak mengerti. Bagi mereka Islam
tidak lebih dari symbol yang diwarisi oleh orangtua. Jadi, ya, Islam mampu
bersaing di dunia modern ini. Umat Muslim pasti mampu menggapai kembali
kejayaannya yang telah lama hilang. Ya, kejayaan umat Muslim bukan dongeng,
bukan hanya sejarah, tetapi semua itu adalah dikarenakan orangnya sendiri yang
memegang status Muslim. Apakah mau merubahnya atau tidak?
Ya, karena itulah aku terlahir di dunia ini, karena itulah aku di sini.
Aku pasti mampu merubah semuanya. Dan akan ku kembalikan kejayaan Islam. Untuk
itu, akan aku buktikan di sini, aku tidaklah kalah dari mereka yang di depan
sana. Aku tidak boleh minder ataupun canggung lagi. Walau bagaimanapun, kita
semua tetap manusia. Dalam pandangan Allah, kita semua ini sama, hanya
ketaqwaannya saja yang membedakannya. Ya, mulai dari sekarang, aku harus
serius, dan akan ku buktikan pada mereka yang di depan bahwa aku mampu menjadi
yang terbaik. Dan akan ku tunjukkan pada teman-teman Muslim di sini, bagaimana
Islam itu sesungguhnya. Dan aku yakin akan mampu merubahnya, merubah pandangan
masyarakat mengenai Islam. Untuk itu aku di sini, untuk itu aku akan memulainya
dari yang terkecil. Aku akan meraih peringkat pertama pada semester kedua di
kelas ini, dan kan ku tunjukkan hal sebenarnya mengenai Islam.
Tekadku pun membulat, semangatku kini takkan ku biarkan padam. Dan aku
takkan lagi mempermalukan guruku yang telah bersusah payah membiayaiku. Akan ku
tunjukkan pada beliau siapa pemuda yang telah ia percayakan itu. Pemuda yang
akan mengubah dunia. Aku yakin aku bisa.
Aku menghilangkan segala lamunan yang telah lama bersarang dalam
pikiranku. Ya, kini aku harus serius. Aku membuka buku paket sejarah yang telah
ku pinjam di perpustakaan tadi pagi ini dengan lebar-lebar. Sekarang saatnya
pelajaran, tidak ada waktu untuk melamun dan mengkhayal lagi. SEKARANG, SAATNYA
UNTUK…..
Tiba-tiba bel sekolah berdering, tanda jam pelajaran berakhir.
HEH…?!?

wuiiih... fontnya**
ReplyDeletekyanya harus pake magnifying glass nih! mataku ampe ber air untuk fokus ketulisannya :(
loh...
Deleteiya tah...
masa'?
prasaanku biasa ja deh nie font....
iya mgkn fontx agak dibesarin dikit... *smile
Deleteoh.. ok2...
Deleteoh.. sekarang aku mengerti...
Deletedicoba buat buka nih blog pake browser selain mozilla ternyata gitu font-nya...
tdk begitu jelas...
hemh....
jujur gan, saya juga susah membacanya, padahal dari judulnya saja sudah menarik, apalagi isinya. mohon dipertimbangkan gan pemilihanna fontnya T_T
ReplyDeleteoh, iyakah...
Deletemaaf kalau begitu sebelumnya...
akan saya benerin dah...
nah... sekarang gimana nih font-nya???
ReplyDeletesebelumnya terima kasih utk masukannya...
jika merasa tidak nyaman lagi, bisa komen...