Monday, 10 December 2012 - , , 8 comments

I’M MUSLIM AND I’M PROUD


“…… menggunakan system primus inter pares, sedangkan syarat yang harus dipenuhi oleh kepala suku, diantaranya memiliki kesaktian, kewibawaan, ….” Suara Made terdengar lantang dan membahana ke segala penjuru kelas saat menjawab pertanyaan dari Bu Tika dengan panjang-lebarnya.
Ya, sekarang ini sedang berlangsung pelajaran dari bidang studi yang dibimbing oleh Bu Tika, yaitu pelajaran sejarah. Dan cewek tinggi berkulit putih yang duduk di depan sana adalah salah seorang siswi hindu berdarah Bali yang pandai dan terampil. Ya, seperti yang ku katakan, murid pandai, ia adalah salah seorang siswi yang selalu terlihat aktif dalam setiap mata pelajaran yang berlangsung, dan selalu saja bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh seorang guru. Dan memang seperti itulah kebanyakan murid-murid di kelas ini, atau mungkin lebih tepatnya, di sekolah ini.
Sekolah ini, ya Sekolah Menengah Atas berstatus Negeri yang ternama di Surabaya. Ya, memang ternama, karena memang, murid-murid di sini merupakan murid-murid berprestasi yang pandai, terampil, dan pastinya luar biasa. Setidaknya begitulah kebanyakan dari murid-murid di sini, atau lebih tepatnya, murid-murid berprestasi yang sering diikutkan dalam berbagai ajang kompetisi ataupun olimpiade. Dan tidak mengherankan bila suasana di setiap kelas terlihat hidup dan bersemangat dalam setiap mata pelajaran yang sedang berlangsung. Karena jelas saja, seperti yang ku katakan, murid-murid di sini merupakan murid-murid pandai, selain itu, juga mereka bukanlah murid-murid pasif, pemalu lagi minder, tetapi mereka selalu ikut aktif, bahkan bisa dibilang lebih aktif dari gurunya sendiri.
Contohnya saja, di kelas ini, salah satunya ada… sebut saja, cewek hindu tadi, Made, yang sepertinya menguasai dalam setiap mata pelajaran yang diberikan. Selain itu juga ada cowok katholik berdarah campuran Jawa dengan Australia, yaitu Daniel, yang merupakan siswa berprestasi yang ahli dalam segala bidang hitung-menghitung, bahkan dia di kelas ini dijuluki sebagai bapaknya angka, yaps.. daya ingat dan caranya memecahkan misteri mengenai angka tidak perlu diragukan lagi. Kemudian juga ada Steven, cowok Kristen keturunan asli Inggris yang gak tau kenapa bisa nyasar ke sini, jadi wajar bila nih anak logat berbahasa Indonesia-nya tidak begitu bagus. Oh.. walau begitu, jangan diragukan lagi kemampuannya dalam pelajaran, dia juga merupakan murid pandai, khususnya dalam bidang kimia. Coba bayangkan saja, padahal baru beberapa bulan duduk di kelas 1 SMA ini, tetapi ia langsung meraih juara satu dalam olimpiade kimia tingkat kabupaten, walau saat itu ia baru pertama kali mengikuti ajang olimpiade. Lalu juga ada Aldo, atlit renang yang berkali-kali menyabet medali emas di tingkat kabupaten ataupun provinsi, tetapi jangan anggap remeh ia dalam mata pelajaran. Di semester satu kemarin saja, Aldo meraih peringkat empat dari empat puluh murid di kelas ini.
Tepat, murid-murid yang ku sebutkan tadi merupakan murid-murid pandai yang menduduki peringkat, masing-masing, pertama, kedua, ketiga, dan keempat di semester satu kemarin. Lalu, yang kelimanya ada Vina, selanjutnya Leny, Siva, Alvin, kemudian… aku tidak ingat siapa saja. Yang pasti, mereka adalah murid-murid pandai dan selalu terlihat aktif di kelas.
Lalu? Siapa aku? Aku… jika dibandingkan dengan mereka, aku tidaklah lebih dari seorang murid bodoh yang duduk paling belakang dan seorang diri, menyendiri. Dan teman-temanku biasanya memanggilku dengan, ‘Husain’. Ya, berbeda dari mereka yang ku sebutkan, aku tidaklah aktif seperti mereka. Aku hanya mampu terdiam dalam setiap mata pelajaran, bahkan di pelajaran sejarah sekarang ini, ku hanya mampu menatapi mereka yang saling sahut-menyahut. Kenapa? Tentunya aku merasa minder ataupun canggung menghadapi murid-murid seperti mereka.
Bahkan, awal aku masuk ke SMA ternama ini beberapa bulan yang lalu saja, aku hanya mampu terdiam melongo melihat bangunan sekolah yang begitu megahnya, aku berjalan pelan dengan jantung berdetak kencang dan memasang wajah culun punya. Jadi, wajar, jika saat itu banyak murid lain yang memerhatikan setiap langkahku. Aku sadar, bahwa aku tidaklah sama seperti mereka, aku jauh berbeda. Mereka merupakan anak-anak hebat dari kalangan kelas atas. Sedangkan aku? Bahkan masuk ke SMA ternama ini saja aku dibiayai oleh seorang guru MTs asal sekolahku dulu yang begitu baik dan perhatian denganku. Padahal awalnya, aku hampir saja putus sekolah hingga hanya tamat MTs. Tetapi beliau yang begitu perhatian denganku, menyayangkan akan kepintaranku, sehingga ia sudi untuk membiayaiku ke sekolah yang tergolong elit ini. Tunggu? Pintar? Ya.. setidaknya dulu.
Awal cerita, ketika aku melangkah di lorong sekolah ini untuk mendaftarkan diri, aku berjalan dengan sangat, sangat, dan sangat grogi. Bagaimana tidak? Aku melihat ke sekelilingku, wajah-wajah mereka yang tampak berseri dan menawan dengan didampingi orangtua yang melangkah dengan begitu anggun. Bahkan awal aku melangkah di pintu masuk saja, sudah banyak deretan mobil mewah yang membuatku merasa canggung. Lalu, melihat sosok-sosok berpakaian rapi dan mewah? Sedangkan aku? Melangkah seorang diri dengan wajah kumus dan pakaian seadanya, sembari memegang amplop berisi formulir dan uang pendaftaran yang diberikan oleh guru MTs, dengan tanganku yang bergemetar.
Aku melihat wajah murid-murid yang beberapa diantaranya tampak asing atau lebih tepatnya bule, dan juga banyak diantara mereka yang hanya dari wajahnya saja sudah tampak begitu pandai dengan hidup bergelimang kemewahan. Juga banyak diantara mereka merupakan warga non-Muslim. Ya, aku sadar, sekarang ini aku berada di SMA Negeri ternama yang pendidikannya umum, yang tidak seperti di MTs dulu. Bahkan, hanya mendengar bahwa mereka itu adalah bule ataupun non-Muslim, sudah membuatku merinding, dan dalam anganku, mereka adalah murid-murid pandai dan luar biasa.
Dan benar saja, terbukti dari hasil raport semester satu kemarin. Yang jelas saja hal itu membuatku lebih sangat canggung dan tak percaya diri. Bagaimana tidak? Aku yang dulu merupakan siswa Islam di MTs swasta Fastabiqul Choirot atau yang lebih dikenal dengan MTs FasCho di salah satu sudut kota Surabaya, yang selalu meraih peringkat pertama dan hanya sekali meraih peringkat kedua dari jumlah murid sekitar 40-45 selama tiga tahun, ternyata di sekolah Negeri umum ini aku bukanlah apa-apa. Huft…. Bagaimana yah? Coba saja bayangkan, ternyata, menghadapi murid-murid asing dan non-Muslim itu, aku, di semester satu kemarin hanya meraih peringkat ke-29 dari 40 siswa. Ada yang ingin mengatakan “wow”? Silahkan saja.
Dari hasil itupun ku sadari, sebuah pertanyaan muncul dalam benakku, tak pantaskah murid dari MTs swasta yang hanya memiliki enam ruang kelas dan tempat seadanya di sebuah tempat kumuh diantara perkotaan mewah di kota Surabaya sepertiku ini untuk bersaing di dunia yang telah modern ini?
Sungguh ku kini bingung dan hanya mampu bertanya, sudah tidak bergunakah ilmu-ilmu tentang Syariat Islam yang telah cukup mendalam diajarkan padaku untuk menghadapi tantangan di zaman modern ini?
Aku kembali mengingat-ingat kejadian masa laluku, di mana sudah banyak hal dalam dunia Islam yang ku ketahui dan ku dapatkan di masa MTs ku dahulu, dan juga sudah melihat bagaimana tingkah sohib-sohib sesama Muslim-ku dulu. Kemudian, sekarang aku dihadapkan pada sekolah umum yang mengenai pendidikan Islam saja tidaklah begitu dapat. Pikiranku pun berkecamuk. Aku baru melihat dan merasakan bagaimana dunia di luar Islam yang sejak dulu hanya ada dalam anganku. Dulu aku hanya menerka-nerka dari informasi yang ku peroleh dari buku dan media cetak lainnya. Dan benar saja, mereka benar-benar pandai.
Sebenarnya sih, tidak sedikit murid Muslim di sini, hanya saja mereka bukanlah Muslim yang taat, dan tidak mengerti tentang Islam dengan begitu baik. Memang, dalam pelajaran umum mereka cukup pandai, ya, hanya cukup jika dibandingkan siswa non-Muslim, tetapi dalam pengetahuan Islam, mereka… bahkan bisa dibilang sama sekali tidak mengerti. Bahkan mengenai sholat saja mereka tidak begitu paham. Yah… jadi beginikah murid-murid Muslim yang terbiasa hidup mewah dan sejak dulu sudah terbiasa bersekolah di tempat elit? Dan bahkan lagi, di sini, Islam tidak berarti apapun. Murid-murid Muslim di sini, sepertinya tidak begitu peduli dengan arti kata “agama Islam”. Bagi mereka agama apapun sama saja, yang terpenting adalah bersaing dalam pelajaran umum.
Tetapi, walaupun dikatakan bersaing, murid-murid non-Muslim di sini selalu lebih unggul. Mereka sepertinya lebih berpengetahuan luas dibandingkan murid-murid Muslim. Jadi, apakah umat Muslim kalah dengan umat non-Muslim?
Ku teringat dengan buku yang berisi kumpulan biografi ilmuwan-ilmuwan Muslim yang ku baca di perpustakaan pada minggu lalu. Aku begitu terkagum, dan terdapat rasa kebanggaan tersendiri di dalam hati. Sekaligus menimbulkan pertanyaan tersendiri ketika ku menatap dunia ini, apakah benar sehebat itu Islam pada abad pertengahan dahulu? Ataukah hanya sekadar dongeng belaka? Aku menjadi ragu.
Aku menatap kembali ke sekeliling, ke seluruh isi kelas, menatap wajah teman-teman satu kelasku. Di sana ada Anang, yang merupakan siswa Muslim, tetapi, membaca Al-Fatihah saja dia sudah begitu gelagapan. Juga ada Santi, yang seharusnya sebagai seorang yang memegang status Muslimah harusnya bisa menjaga auratnya, tetapi dia? Pakaiannya saja begitu wow. Selain itu juga ada Ghani, yang bisa dibilang seorang murid Muslim yang paling tegas diantara kami. Tetapi tetap saja, kami semua, murid-murid Muslim, dibandingkan dengan mereka yang di depan sana, murid-murid dari agama yang berbeda-beda, bukanlah apa-apa.
Dalam setiap detik pelajaran sejarah ini, aku hanya mampu terdiam dan termenung tanpa kata. Pelajaran sejarah ya? Ya, sudah lebih dari satu jam aku mengikuti pelajaran sejarah di dalam kelas ini, tetapi sama sekali tak ku gubris apa yang ada di depan sana. Aku hanya terdiam dan termenung di bangku paling belakang. Setidaknya hingga ku tersadar.
Sejarah? Biografi? Ilmuwan Muslim? Abad Pertengahan? Tiba-tiba, serentetan kata-kata itu mengalir dalam benakku. Benar, jika benar kemajuan umat Muslim pada abad pertengahan semengagumkan seperti yang ku baca, kenapa sekarang ini tidak bisa? Ku menatap kembali ke sekeliling. Apakah karena umat Muslim yang seperti sekarang ini? Yang tidak peduli dengan yang namanya Islam? Yang hanya menatap suatu keduniawian? Sehingga menganggap orang-orang non-Muslim di luar kita itu begitu mengagumkan? Jadi, di mana kebanggaan kita sebagai umat Muslim, di mana kebanggaanku yang memeluk Islam ini.
Benar, tidak ada yang salah dalam ajaran Islam. Tidak ada yang salah dalam Syariat Islam. Tidak ada yang salah di Islam. Hanya saja mereka, kebanyakan umat Muslim di zaman modern ini saja yang tidak mengerti. Bagi mereka Islam tidak lebih dari symbol yang diwarisi oleh orangtua. Jadi, ya, Islam mampu bersaing di dunia modern ini. Umat Muslim pasti mampu menggapai kembali kejayaannya yang telah lama hilang. Ya, kejayaan umat Muslim bukan dongeng, bukan hanya sejarah, tetapi semua itu adalah dikarenakan orangnya sendiri yang memegang status Muslim. Apakah mau merubahnya atau tidak?
Ya, karena itulah aku terlahir di dunia ini, karena itulah aku di sini. Aku pasti mampu merubah semuanya. Dan akan ku kembalikan kejayaan Islam. Untuk itu, akan aku buktikan di sini, aku tidaklah kalah dari mereka yang di depan sana. Aku tidak boleh minder ataupun canggung lagi. Walau bagaimanapun, kita semua tetap manusia. Dalam pandangan Allah, kita semua ini sama, hanya ketaqwaannya saja yang membedakannya. Ya, mulai dari sekarang, aku harus serius, dan akan ku buktikan pada mereka yang di depan bahwa aku mampu menjadi yang terbaik. Dan akan ku tunjukkan pada teman-teman Muslim di sini, bagaimana Islam itu sesungguhnya. Dan aku yakin akan mampu merubahnya, merubah pandangan masyarakat mengenai Islam. Untuk itu aku di sini, untuk itu aku akan memulainya dari yang terkecil. Aku akan meraih peringkat pertama pada semester kedua di kelas ini, dan kan ku tunjukkan hal sebenarnya mengenai Islam.
Tekadku pun membulat, semangatku kini takkan ku biarkan padam. Dan aku takkan lagi mempermalukan guruku yang telah bersusah payah membiayaiku. Akan ku tunjukkan pada beliau siapa pemuda yang telah ia percayakan itu. Pemuda yang akan mengubah dunia. Aku yakin aku bisa.
Aku menghilangkan segala lamunan yang telah lama bersarang dalam pikiranku. Ya, kini aku harus serius. Aku membuka buku paket sejarah yang telah ku pinjam di perpustakaan tadi pagi ini dengan lebar-lebar. Sekarang saatnya pelajaran, tidak ada waktu untuk melamun dan mengkhayal lagi. SEKARANG, SAATNYA UNTUK…..
Tiba-tiba bel sekolah berdering, tanda jam pelajaran berakhir.
HEH…?!?

8 Blogger-Comments
Tweets
FB-Comments

8 comments:

  1. wuiiih... fontnya**
    kyanya harus pake magnifying glass nih! mataku ampe ber air untuk fokus ketulisannya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. loh...
      iya tah...
      masa'?
      prasaanku biasa ja deh nie font....

      Delete
    2. iya mgkn fontx agak dibesarin dikit... *smile

      Delete
    3. oh.. sekarang aku mengerti...
      dicoba buat buka nih blog pake browser selain mozilla ternyata gitu font-nya...
      tdk begitu jelas...

      hemh....

      Delete
  2. jujur gan, saya juga susah membacanya, padahal dari judulnya saja sudah menarik, apalagi isinya. mohon dipertimbangkan gan pemilihanna fontnya T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh, iyakah...
      maaf kalau begitu sebelumnya...
      akan saya benerin dah...

      Delete
  3. nah... sekarang gimana nih font-nya???
    sebelumnya terima kasih utk masukannya...
    jika merasa tidak nyaman lagi, bisa komen...

    ReplyDelete

Pembaca yang baik akan selalu meninggalkan jejak... ^_^