Aku duduk termenung di sudut kamar, menatap dalam-dalam layar laptop di
atas meja. Sesekali menggaruk-garuk rambut kepala yang tidak gatal. Atau bahkan
hingga mengacak-ngacak rambutku yang telah teracak-acak semenjak tadi. Aku
sudah beberapa kali mencoba untuk menarikan jari-jemari tangan ke atas keyboard,
namun tak ada satupun jari yang mau beranjak untuk mengetikkan sesuatu.
Jemariku terasa membeku, begitu pula dengan otakku. Sudah hampir satu jam ini
aku berpikir dan mencoba untuk menggali imajinasi-imajinasi gila di dalam
otakku untuk dituangkan ke dalam sebuah cerita fiksi. Namun tidak ada satupun ide
gila dan bagus yang bisa aku tuangkan ke dalam bentuk tulisan.
Monday, 23 February 2015 -
Cerpen,
Slice of Life
13
comments
Cerpen,
Slice of Life
13
comments
SEBUNGKUS BENCANA
Di tengah hiruk-pikuk kota Surabaya, cuaca mendung menjadi saksi bisu
sebuah kejadian yang didramatisir oleh si penulis. Sebuah sepeda motor yang
ditumpangi sepasang suami-istri melintas di keramaian kota. Disaat sepeda motor
itu melaju kencang, tampak seorang anak kecil yang duduk di antara mereka
merajuk meminta sesuatu. Anak kecil yang diduga merupakan anak pasangan
tersebut segera terdiam setelah wanita yang berperan sebagai istri dari
pengendara sekaligus ibu dari anak kecil tersebut membuka sebuah bungkusan
kresek dan mengambil sebungkus permen lollipop. Ibu tersebut membuka bungkus
permen tersebut dan memberikan permen lollipop di dalamnya kepada anak kecil
tersebut. Kemudian, ketika sepeda motor itu mulai melambat karena si pengendara
melihat lampu lalu lintas yang menyala merah, sang istri pengandara tersebut
menjatuhkan bungkus permen lollipop ke tengah jalan, sementara sang anak hanya
memandangi bungkus yang semakin menjauh di belakangnya.
Tuesday, 17 February 2015 -
Cerpen,
Slice of Life
10
comments
Cerpen,
Slice of Life
10
comments
KAU DATANG TERLAMBAT
Aku menekan dengan keras sebuah bolpoin di atas tumpukan kertas dan
membuat goresan-goresan tak bermakna. Bahkan sebagian goresan telah merusak dan
merobek kertas. Rasa sebal dan amarah tidak hanya berhenti sampai di situ, aku
meremas-remas kertas-kertas dalam buku diary berwarna pink yang semenjak tadi
tercoret oleh tangan liarku, membuat beberapa memori keseharian yang tertulis
di sana berserakan di atas meja. Ingin rasanya bagiku untuk berteriak dengan
sangat keras di dalam bilik kamar ini. Kenapa? Kenapa? Dan kenapa? Harus
terlambat?
Subscribe to:
Posts (Atom)

