Saturday, 28 February 2015 - , , 11 comments

HELP ME, I NEED AN IDEA!

Aku duduk termenung di sudut kamar, menatap dalam-dalam layar laptop di atas meja. Sesekali menggaruk-garuk rambut kepala yang tidak gatal. Atau bahkan hingga mengacak-ngacak rambutku yang telah teracak-acak semenjak tadi. Aku sudah beberapa kali mencoba untuk menarikan jari-jemari tangan ke atas keyboard, namun tak ada satupun jari yang mau beranjak untuk mengetikkan sesuatu. Jemariku terasa membeku, begitu pula dengan otakku. Sudah hampir satu jam ini aku berpikir dan mencoba untuk menggali imajinasi-imajinasi gila di dalam otakku untuk dituangkan ke dalam sebuah cerita fiksi. Namun tidak ada satupun ide gila dan bagus yang bisa aku tuangkan ke dalam bentuk tulisan.

Monday, 23 February 2015 - , 13 comments

SEBUNGKUS BENCANA

Di tengah hiruk-pikuk kota Surabaya, cuaca mendung menjadi saksi bisu sebuah kejadian yang didramatisir oleh si penulis. Sebuah sepeda motor yang ditumpangi sepasang suami-istri melintas di keramaian kota. Disaat sepeda motor itu melaju kencang, tampak seorang anak kecil yang duduk di antara mereka merajuk meminta sesuatu. Anak kecil yang diduga merupakan anak pasangan tersebut segera terdiam setelah wanita yang berperan sebagai istri dari pengendara sekaligus ibu dari anak kecil tersebut membuka sebuah bungkusan kresek dan mengambil sebungkus permen lollipop. Ibu tersebut membuka bungkus permen tersebut dan memberikan permen lollipop di dalamnya kepada anak kecil tersebut. Kemudian, ketika sepeda motor itu mulai melambat karena si pengendara melihat lampu lalu lintas yang menyala merah, sang istri pengandara tersebut menjatuhkan bungkus permen lollipop ke tengah jalan, sementara sang anak hanya memandangi bungkus yang semakin menjauh di belakangnya.

Tuesday, 17 February 2015 - , 10 comments

KAU DATANG TERLAMBAT

Aku menekan dengan keras sebuah bolpoin di atas tumpukan kertas dan membuat goresan-goresan tak bermakna. Bahkan sebagian goresan telah merusak dan merobek kertas. Rasa sebal dan amarah tidak hanya berhenti sampai di situ, aku meremas-remas kertas-kertas dalam buku diary berwarna pink yang semenjak tadi tercoret oleh tangan liarku, membuat beberapa memori keseharian yang tertulis di sana berserakan di atas meja. Ingin rasanya bagiku untuk berteriak dengan sangat keras di dalam bilik kamar ini. Kenapa? Kenapa? Dan kenapa? Harus terlambat?