Friday, 24 May 2013 - , 2 comments

CERMIN DUA MUARA part XV – Gua 7 Serangkai

Hari pertama ujian semester bagi Ferdi, dapat ia tempuh dengan mudah, tak ada kesulitan berarti yang ia dapati.
“Fer, kita sekarang belajar bersama lebih dulu yuk di sini.” Ucap Deni segera sesaat setelah bel tanda ujian berakhir.
“Benar nih, Fer. Besok kan ada ujian matematika dan IPA.” Sahut Fina.
“Iya, kita berenam mau belajar kelompok nih.” Rani menambahi. Dua perempuan yang memang selalu kelihatan bersama dan suka memaksa orang lain untuk belajar kelompok ini, kali ini juga mereka mengajak kelima teman laki-laki mereka untuk bergabung dengan mereka.
“Iya nih... Sama kamu jadi bertujuh deh.” Fina berkata kembali.
“Oke deh. Terserah.” Ucap Ferdi menerima permintaan mereka.
Dan kemudian, suasana setelah ujian berakhir itupun menjadi suasana belajar bersama. Ferdi yang mengikutinya, tampak antusias dan semangat, walaupun dalam benaknya masih terpikirkan tentang masalah yang baru saja ia hadapi. Tetapi, ia mencoba untuk berfokus terlebih dahulu menghadapi ujian kali ini.
*****

Di depan Istana Kerajaan Siak, diantara keramaian orang yang lalu lalang, dua buah mobil mewah terparkir tak jauh darinya. Salah seorang yang bersandar di samping mercedez berkata sinis, “Setahuku, suatu tempat yang memiliki unsur mistis, ya di depan istana tua jelek ini. Sebenarnya tempat apa yang kau cari Robert?”
Robert hanya termenung untuk sesaat, ia memandang ke depan, ke arah istana berada, kemudian ia berkata, “Bukan, ku yakin bukan tempat seperti ini? Tak ada yang mencurigakan di tempat ini. Aku juga tak merasakan hawa aneh atau apapun itu namanya. Apa kau tidak terpikirkan tempat yang lainnya, Steve?”
Steve hanya bersandar diam tak menjawab, ia berusaha memikirkan sesuatu. Kemudian, seseorang keluar dari dalam ruang pengemudi mobil Ford. “Jika hal-hal aneh yang misteri dan jauh dari keramaian seperti itu, mungkin kita bisa mengunjungi sebuah gua angker di daerah barat itu.” Ucap Harled sesaat setelah keluar.
“Gua angker? Aku belum pernah mendengarnya, di mana itu?”
“Oh ya..” sahut Steve. “Gua Tujuh Serangkai. Menurut yang ku dengar, banyak misteri yang ada di dalamnya.”
“Kau tahu tempat itu Steve?” tanya Robert.
“Ya, itu berada di Rokan Hulu. Jangan katakan kita akan ke sana.”
“Tentu saja.”
“Oh, no! Yang benar saja. Tempat itu sulit untuk dijangkau. Mobil tidak akan bisa melaluinya. Kita harus berjalan kaki untuk mencapai ke sana.”
“Jika seperti yang kau katakan, berarti kemungkinannya akan semakin besar. Cepat katakan apa yang kau ketahui mengenai tempat itu!”
“Menurut legenda yang pernah ku dengar, gua itu merupakan tempat pelarian tujuh orang putri dari kerajaan Sriwijaya. Yah... kalau mengenai makhluk yang bukan manusia seperti yang kau katakan, memang banyak ditemui makhluk aneh di dalamnya, seperti ular besar, ular merah panjang, biawak putih, kelelawar bertelinga besar, dan entah apapun itu. Dan katanya makhuk-makhluk itu merupakan jelmaan dari tujuh orang putri itu. Tetapi sampai saat ini, itu hanya legenda, karena tidak ada bukti sejarah yang mendukungnya. Cih... memang dasar orang Indonesia itu, terlalu percaya dengan hal-hal berbau mistis seperti itu.”
Robert tak menghiraukan cacian yang terucap dari Steve., ia segera bertanya tanpa basa-basi, “Benda. Apakah ada benda legenda atau mistis di sana?”
“Ehm... biar ku ingat-ingat.” Jawab Steve perlahan. “Mungkin ada. Ada benda antik yang berbau mistis di sana, tetapi bukan baju zirah seperti yang kau cari, benda ini lebih mengarah pada sesuatu seperti keris. Jadi ku kira, yang kau cari bukan di tempat itu.”
“Tidak.” Sahut Robert. “Tidak salah lagi, kemungkinan ada di sana. Cerita-cerita mistis itu, makhluk-makhluk jelmaan, benda antik berupa keris, dan lainnya, tidak lebih untuk memanipulasi apa yang sesungguhnya ada di dalamnya. Ya, itu pasti ulah para liteirin itu, untuk mengalihkan kenyataan sesungguhnya.” Robert sedikit menyeringai, kemudian berkata kembali, “Aku tahu itu. Kebiasaan bodoh para liteirin itu.”
“Jadi, kita akan benar-benar ke sana?” ucap Steve meyakinkan.
“Tentu saja. Kita akan memeriksa ke sana.”
*****

Sepulangnya dari belajar bersama, sempat terbesit dalam benak Ferdi untuk mengunjungi rumah Epsa sebentar waktu. Namun, ia sadari, jika ia melakukannya, hal itu hanya akan mengacaukan pikirannya. Untuk itu, Ferdi berusaha untuk bersabar terlebih dahulu, ia segera pulang ke rumah yang biasa ia tempati dan segera melakukan aktivitas manusia normal lainnya.


2 Blogger-Comments
Tweets
FB-Comments

2 comments:

  1. gak habis habis ide ceritanya
    ditunggu lanjutannya ^_^

    ReplyDelete

Pembaca yang baik akan selalu meninggalkan jejak... ^_^