Thursday, 15 November 2012 - , , 2 comments

PELANGI DI WAJAHMU (bagian kenyataan sesungguhnya)



Fika terkejut mengetahui bahwa Alfin dan Heri sudah terbebas dari ruang tahanan yang pengap. Bersama dengan beberapa teman sekelas yang saat itu berkumpul di rumah Alfin, menanti-nanti cerita yang akan dihidangkan oleh Alfin dan Heri. Tetapi sayangnya, cerita panjang yang mereka harapkan tidaklah kunjung datang seperti yang diharapkan. Alfin dan Heri hanya mengatakan bahwa ada seseorang yang berhasil membongkar kasus kesalahpahaman itu. Karena sebenarnya, kasus kebakaran itu akibat kecerobohan sang pemilik warung sendiri dan seseorang yang membuang putung rokok sembarangan yang sekarang ini sedang dalam proses pencarian polisi. Sementara itu, pemilik warung sekarang ini masih diinterogasi oleh polisi.
Fika sebenarnya sempat bertanya siapakah gerangan yang berhasil membujuk polisi untuk membebaskan mereka berdua. Tetapi jawaban Alfin maupun Heri tidak lebih dari tidak tahu. Karena mereka menyebutkan bahwa polisi sendiri tidak mengetahui siapa makhluk misterius itu, dan karena juga si makhluk itu tidak mau menyebutkan identitas dirinya.
“Tetapi…” kata Alfin.
“Tetapi apa?” Jawab Fika penasaran.
“Besok akan ku beritahu, aku akan menghubungi nanti malam.” Jawab Alfin.
“Heh? Apa? Apa sebenarnya?”
“Sudahlah… sekarang sebaiknya kalian semua pulang saja.” Alfin mengusir teman-temannya yang baru saja berkunjung menantikan cerita heboh. Tetapi… yah begitulah… mereka harus pulang juga deh… Kecewa? Tentu.
*****

Hari telah larut malam, Fika telah berkemas dan telah siap untuk menghadiri pesta alam mimpinya. Namun, baru saja ia berbaring, tiba-tiba handphone miliknya bergetar. Ia melihat handphone yang tergeletak di kasurnya dan membaca sms yang masuk.
Maaf, aku tak bisa mengatakannya di hadapan teman-teman yang lain. Karena ku pikir ini sebaiknya dirahasiakan saja lebih dahulu. Aku sepertinya tahu siapa orang misterius itu, tetapi aku hanya bisa mengatakannya padamu dan Heri saja. Karena aku percaya pada kalian. Datanglah besok pagi.” Alfin.
Apa? Apa maksudnya sebenarnya? Batin Fika. Tetapi, belum sampai Fika berpikir lebih jauh, ia sudah terlanjur terlelap di pulau kapuknya.
*****

Keesokan harinya, seperti waktu yang dijanjikan, Fika dan Heri tiba di rumah Alfin. Dengan tak sabaran, Fika segera memburu pertanyaan, “Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”
“Sepertinya aku tahu siapa sosok yang telah membantu kami berdua terbebas dari penahanan para polisi itu.” Jawab Alfin yang duduk berdekatan dengan Heri.
“Siapa? Bagaimana tahu?” Tanya Fika tak sabaran.
“Reno, tak salah lagi.”
“Bagaimana bisa? Bagaimana tahu?”
“Foto-foto yang dijadikan bukti itu. Foto-foto jelek yang membebaskan kami. Tak salah lagi, itu hasil jepretannya.”
“Kau yakin?”
“Kitalah yang akan membuat itu menjadi yakin.”
“Maksudmu?” sahut Heri.
“Kita akan mengunjungi rumahnya minggu pagi ini juga.”
*****

Fika beberapa kali mengetuk pintu rumah Reno, tetapi tak kunjung jua pintu itu membukakan angin segar dari dalam.
Dalam saat penantian itu, Fika sempat bertanya pada Alfin, “Kenapa kau tidak ingin mengatakan hal ini pada yang lainnya?”
“Ah, tentu saja, kau ini seperti tidak tahu saja bagaimana biasanya aku dengan Reno itu.”
“Yah… tapi enggak segitunya juga, kan?” baru saja Fika berkata, sesaat kemudian ia beserta kedua temannya itu terkejut, karena tiba-tiba sebuah suara seperti benda terjatuh dan terpecah terdengar. Mereka bertiga terkejut saling berpandangan. Apa yang terjadi? Batin mereka bertiga.
Alfin segera menyahut mendahului, mencoba membuka pintu yang ternyata tidak terkunci dari dalam. Alfin menatap sekilas ke arah kedua temannya, kemudian mengangguk. Alfin  bergegas memasuki rumah itu. Sepi. Hanya itu suasana yang terasa dari dalam. Tetapi Alfin segera melangkah menuju asal kegaduhan itu.
Alfin dengan diikuti Fika dan Heri memasuki sebuah kamar. Tampak di sana seorang wanita tua renta tergolek jatuh di atas lantai. Di samping wanita tua itu, terlihat sebuah pecahan gelas berserakan disertai dengan air yang bercecer. Tampak wanita tua itu seperti telah terjatuh dari atas ranjang lusuh di sebelahnya, sedangkan pecahan itu berasal dari atas meja reyot di samping lainnya. Sekilas Alfin dapat menangkap kejadian yang baru saja terjadi. Ia seperti tahu bahwa seorang wanita tua yang terlihat sakit-sakitan itu berusaha mengambil seteguk air dari gelas di atas meja, tetapi sepertinya wanita tua itu tidak begitu sanggup untuk menggapainya, hingga ia terjerembab. Segera, Alfin membantu wanita tua itu untuk bangkit ke atas ranjang lusuhnya.
Alfin menoleh ke arah kedua temannya dan memberi isyarat pada mereka untuk mengambil seteguk air minum. Kedua temannya segera mengerti. Kemudian mereka bertiga pun berusaha membantu wanita tua yang tampak tak berdaya itu.
*****

Beberapa jangka waktu setelah itu, setelah wanita tua itu tampak lebih baikan dibandingkan sebelumnya, Alfin dan kawan-kawan tak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Ia segera bertanya akan keberadaan teman mereka, Reno. Perlahan, dengan suara lemasnya, wanita tua itu pun menceritakan hal sebenarnya dari Reno.
Reno, anak semata wayang dari wanita tua yang sudah lama ditinggal meninggal suaminya itu, adalah seorang anak yang sangat berbakti pada orangtuanya. Semenjak ayahnya meninggal, Reno lah yang menghidupi keluarga kecil yang hanya beranggota dia dan ibunya. Terlebih semenjak ibunya sudah mulai sakit-sakitan, Reno menghabiskan kesehariannya untuk merawat ibunya. Seluruh beban dan tanggung jawab keluarga kecil itu ditanggung olehnya. Mulai dari makanan untuk keseharian, biaya sekolahnya, hingga biaya untuk membeli obat dan merawat ibunya itu.
Satu-satunya hal yang dapat menjadi penopang hidup Reno dan ibunya adalah lukisan. Ya, terrnyata Reno merupakan seorang pelukis berbakat yang menghasilkan lukisan-lukisan luar biasa. Alfin, Heri, dan juga Fika yang mendengar cerita-cerita dari wanita tua itu, sesekali menatap ke sekeliling, melihat beberapa lukisan yang memang benar-benar indah, jauh lebih bagus dibandingkan foto hasil jepretan Reno. Beberapa pemandangan dari lukisan itu, tampak tidak begitu asing di mata mereka bertiga. Benar, pemandangan dalam lukisan itu pernah mereka lihat di foto hasil jepretan Reno, hanya saja, lukisan itu jauh lebih baik dibandingkan fotonya, bahkan ditambah dengan beberapa unsur tambahan. Mereka bertiga hanya bisa berdecak kagum melihat pemandangan yang luar biasa itu. Tak mereka sangka, seorang teman yang mereka kira bodoh dan tak mampu melakukan apapun, ternyata merupakan seorang pelukis yang berbakat.
Tetes demi tetes mulai membasahi pipi wanita tua itu, ia bercerita dan mengungkapkan bahwa begitu menyesal ia tak bisa merawat anak semata wayangnya, bahkan hanya merepotkan dan menjadi beban belaka bagi perkembangan anak tercintanya. Keseharian Reno, anaknya, hanya dihabiskan untuk melukis, karena hanya itu yang dapat Reno lakukan untuk mencari nafkah keluarga, dan untuk merawatnya yang seringkali menyusahkan anaknya.
Reno, setiap pulang sekolah selalu segera mengurusi kebutuhan ibunya, kemudian segera melukiskan tinta-tintanya di atas kanvas. Lalu, saat ada kesempatan untuk belajar di malam hari, ibunya hanya akan mengganggu dan merepotkan apa yang dilakukan Reno. Ibunya yang sudah sakit-sakitan itu, sudah tak mampu melakukan apapun, bahkan untuk bergerak pun susah, semua yang ia butuhkan seringkali harus memanggil dan mengganggu Reno. Tampak di wajah wanita tua itu hanya ada penyesalan dalam batinnya. Reno sudah pontang-panting, ke sana kemari mencari pengobatan untuk ibunya, tetapi apa? Tiada hasil, jerih payahnya seperti sia-sia. Bahkan uang hasil lukisan masih jauh dari kata cukup.
Dan pada setiap minggu pagi seperti ini, Reno biasanya berangkat ke tengah kota untuk menjajakan lukisan hasil karya seninya. Jadi, wajar jika ia jarang terlihat oleh teman-temannya.
Ketiga teman sekelas Reno itu hanya mampu termenung tanpa terusik. Tetapi kemudian, wanita itu seperti kesakitan dan terbatuk-batuk tak berdaya. Darah… tetesan darah tersembur dalam setiap batuknya itu. Ketiga remaja itu segera tampak panik dan kebingungan.

2 Blogger-Comments
Tweets
FB-Comments

2 comments:

  1. ada bakat nulis ini sob..., panjang jg ya ada episode sebelum lg. *smile

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe....
      masih belajar...

      kalo ada kritik dan sarannya, mohon disampaikan...

      Delete

Pembaca yang baik akan selalu meninggalkan jejak... ^_^