Fika terkejut
mengetahui bahwa Alfin dan Heri sudah terbebas dari ruang tahanan yang pengap.
Bersama dengan beberapa teman sekelas yang saat itu berkumpul di rumah Alfin,
menanti-nanti cerita yang akan dihidangkan oleh Alfin dan Heri. Tetapi
sayangnya, cerita panjang yang mereka harapkan tidaklah kunjung datang seperti
yang diharapkan. Alfin dan Heri hanya mengatakan bahwa ada seseorang yang
berhasil membongkar kasus kesalahpahaman itu. Karena sebenarnya, kasus
kebakaran itu akibat kecerobohan sang pemilik warung sendiri dan seseorang yang
membuang putung rokok sembarangan yang sekarang ini sedang dalam proses
pencarian polisi. Sementara itu, pemilik warung sekarang ini masih diinterogasi
oleh polisi.
Fika sebenarnya
sempat bertanya siapakah gerangan yang berhasil membujuk polisi untuk
membebaskan mereka berdua. Tetapi jawaban Alfin maupun Heri tidak lebih dari
tidak tahu. Karena mereka menyebutkan bahwa polisi sendiri tidak mengetahui
siapa makhluk misterius itu, dan karena juga si makhluk itu tidak mau
menyebutkan identitas dirinya.
“Tetapi…” kata
Alfin.
“Tetapi apa?”
Jawab Fika penasaran.
“Besok akan ku
beritahu, aku akan menghubungi nanti malam.” Jawab Alfin.
“Heh? Apa? Apa
sebenarnya?”
“Sudahlah…
sekarang sebaiknya kalian semua pulang saja.” Alfin mengusir teman-temannya
yang baru saja berkunjung menantikan cerita heboh. Tetapi… yah begitulah…
mereka harus pulang juga deh… Kecewa? Tentu.
*****
Hari telah
larut malam, Fika telah berkemas dan telah siap untuk menghadiri pesta alam
mimpinya. Namun, baru saja ia berbaring, tiba-tiba handphone miliknya bergetar.
Ia melihat handphone yang tergeletak di kasurnya dan membaca sms yang masuk.
“Maaf, aku
tak bisa mengatakannya di hadapan teman-teman yang lain. Karena ku pikir ini
sebaiknya dirahasiakan saja lebih dahulu. Aku sepertinya tahu siapa orang
misterius itu, tetapi aku hanya bisa mengatakannya padamu dan Heri saja. Karena
aku percaya pada kalian. Datanglah besok pagi.” Alfin.
Apa? Apa
maksudnya sebenarnya? Batin Fika. Tetapi, belum sampai Fika berpikir lebih
jauh, ia sudah terlanjur terlelap di pulau kapuknya.
*****
Keesokan
harinya, seperti waktu yang dijanjikan, Fika dan Heri tiba di rumah Alfin.
Dengan tak sabaran, Fika segera memburu pertanyaan, “Apa yang sebenarnya ingin
kau katakan?”
“Sepertinya aku
tahu siapa sosok yang telah membantu kami berdua terbebas dari penahanan para
polisi itu.” Jawab Alfin yang duduk berdekatan dengan Heri.
“Siapa?
Bagaimana tahu?” Tanya Fika tak sabaran.
“Reno, tak
salah lagi.”
“Bagaimana
bisa? Bagaimana tahu?”
“Foto-foto yang
dijadikan bukti itu. Foto-foto jelek yang membebaskan kami. Tak salah lagi, itu
hasil jepretannya.”
“Kau yakin?”
“Kitalah yang
akan membuat itu menjadi yakin.”
“Maksudmu?”
sahut Heri.
“Kita akan
mengunjungi rumahnya minggu pagi ini juga.”
*****
Fika beberapa
kali mengetuk pintu rumah Reno, tetapi tak kunjung jua pintu itu membukakan
angin segar dari dalam.
Dalam saat
penantian itu, Fika sempat bertanya pada Alfin, “Kenapa kau tidak ingin
mengatakan hal ini pada yang lainnya?”
“Ah, tentu
saja, kau ini seperti tidak tahu saja bagaimana biasanya aku dengan Reno itu.”
“Yah… tapi
enggak segitunya juga, kan?” baru saja Fika berkata, sesaat kemudian ia beserta
kedua temannya itu terkejut, karena tiba-tiba sebuah suara seperti benda terjatuh
dan terpecah terdengar. Mereka bertiga terkejut saling berpandangan. Apa yang
terjadi? Batin mereka bertiga.
Alfin segera
menyahut mendahului, mencoba membuka pintu yang ternyata tidak terkunci dari
dalam. Alfin menatap sekilas ke arah kedua temannya, kemudian mengangguk.
Alfin bergegas memasuki rumah itu. Sepi.
Hanya itu suasana yang terasa dari dalam. Tetapi Alfin segera melangkah menuju
asal kegaduhan itu.
Alfin dengan
diikuti Fika dan Heri memasuki sebuah kamar. Tampak di sana seorang wanita tua
renta tergolek jatuh di atas lantai. Di samping wanita tua itu, terlihat sebuah
pecahan gelas berserakan disertai dengan air yang bercecer. Tampak wanita tua
itu seperti telah terjatuh dari atas ranjang lusuh di sebelahnya, sedangkan
pecahan itu berasal dari atas meja reyot di samping lainnya. Sekilas Alfin
dapat menangkap kejadian yang baru saja terjadi. Ia seperti tahu bahwa seorang
wanita tua yang terlihat sakit-sakitan itu berusaha mengambil seteguk air dari
gelas di atas meja, tetapi sepertinya wanita tua itu tidak begitu sanggup untuk
menggapainya, hingga ia terjerembab. Segera, Alfin membantu wanita tua itu untuk
bangkit ke atas ranjang lusuhnya.
Alfin menoleh
ke arah kedua temannya dan memberi isyarat pada mereka untuk mengambil seteguk
air minum. Kedua temannya segera mengerti. Kemudian mereka bertiga pun berusaha
membantu wanita tua yang tampak tak berdaya itu.
*****
Beberapa jangka
waktu setelah itu, setelah wanita tua itu tampak lebih baikan dibandingkan
sebelumnya, Alfin dan kawan-kawan tak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Ia
segera bertanya akan keberadaan teman mereka, Reno. Perlahan, dengan suara
lemasnya, wanita tua itu pun menceritakan hal sebenarnya dari Reno.
Reno, anak
semata wayang dari wanita tua yang sudah lama ditinggal meninggal suaminya itu,
adalah seorang anak yang sangat berbakti pada orangtuanya. Semenjak ayahnya
meninggal, Reno lah yang menghidupi keluarga kecil yang hanya beranggota dia
dan ibunya. Terlebih semenjak ibunya sudah mulai sakit-sakitan, Reno
menghabiskan kesehariannya untuk merawat ibunya. Seluruh beban dan tanggung
jawab keluarga kecil itu ditanggung olehnya. Mulai dari makanan untuk
keseharian, biaya sekolahnya, hingga biaya untuk membeli obat dan merawat
ibunya itu.
Satu-satunya
hal yang dapat menjadi penopang hidup Reno dan ibunya adalah lukisan. Ya,
terrnyata Reno merupakan seorang pelukis berbakat yang menghasilkan
lukisan-lukisan luar biasa. Alfin, Heri, dan juga Fika yang mendengar
cerita-cerita dari wanita tua itu, sesekali menatap ke sekeliling, melihat
beberapa lukisan yang memang benar-benar indah, jauh lebih bagus dibandingkan
foto hasil jepretan Reno. Beberapa pemandangan dari lukisan itu, tampak tidak
begitu asing di mata mereka bertiga. Benar, pemandangan dalam lukisan itu pernah
mereka lihat di foto hasil jepretan Reno, hanya saja, lukisan itu jauh lebih
baik dibandingkan fotonya, bahkan ditambah dengan beberapa unsur tambahan.
Mereka bertiga hanya bisa berdecak kagum melihat pemandangan yang luar biasa
itu. Tak mereka sangka, seorang teman yang mereka kira bodoh dan tak mampu
melakukan apapun, ternyata merupakan seorang pelukis yang berbakat.
Tetes demi
tetes mulai membasahi pipi wanita tua itu, ia bercerita dan mengungkapkan bahwa
begitu menyesal ia tak bisa merawat anak semata wayangnya, bahkan hanya
merepotkan dan menjadi beban belaka bagi perkembangan anak tercintanya.
Keseharian Reno, anaknya, hanya dihabiskan untuk melukis, karena hanya itu yang
dapat Reno lakukan untuk mencari nafkah keluarga, dan untuk merawatnya yang
seringkali menyusahkan anaknya.
Reno, setiap
pulang sekolah selalu segera mengurusi kebutuhan ibunya, kemudian segera
melukiskan tinta-tintanya di atas kanvas. Lalu, saat ada kesempatan untuk
belajar di malam hari, ibunya hanya akan mengganggu dan merepotkan apa yang
dilakukan Reno. Ibunya yang sudah sakit-sakitan itu, sudah tak mampu melakukan
apapun, bahkan untuk bergerak pun susah, semua yang ia butuhkan seringkali
harus memanggil dan mengganggu Reno. Tampak di wajah wanita tua itu hanya ada
penyesalan dalam batinnya. Reno sudah pontang-panting, ke sana kemari mencari
pengobatan untuk ibunya, tetapi apa? Tiada hasil, jerih payahnya seperti
sia-sia. Bahkan uang hasil lukisan masih jauh dari kata cukup.
Dan pada setiap
minggu pagi seperti ini, Reno biasanya berangkat ke tengah kota untuk
menjajakan lukisan hasil karya seninya. Jadi, wajar jika ia jarang terlihat
oleh teman-temannya.
Ketiga teman
sekelas Reno itu hanya mampu termenung tanpa terusik. Tetapi kemudian, wanita
itu seperti kesakitan dan terbatuk-batuk tak berdaya. Darah… tetesan darah
tersembur dalam setiap batuknya itu. Ketiga remaja itu segera tampak panik dan
kebingungan.
ada bakat nulis ini sob..., panjang jg ya ada episode sebelum lg. *smile
ReplyDeletehehe....
Deletemasih belajar...
kalo ada kritik dan sarannya, mohon disampaikan...